Rabu, 2009 Juni 10

Unjuk Rasa Sopir

Pagi itu seperti biasa rutinitas kantor, sedikit berbeda dari biasanya karena ada info aksi damai dari para sopir Dapur 12 menyangkut trayek Dapur 12- Jodoh yang mereka keluhkan. Temen dari Poltabes Barelang telah hadir, mereka membawa pasukan untuk ikut mengamankan jalannya aksi yang dipimpin langsung oleh Lubis yang mengatas namakan para sopir Dapur 12 tersebut.
Saya bersyukur bahwa dengan adanya aksi damai tersebut makin menambah kawan terutama dari jajaran kepolisian. Kalau selama ini jarang ketemu, melalui aksi damai sopir tersebut kami bisa jumpa kawan, yang sama - sama aktif di Remaja Mesjid tahun 90-an di Sekupang.
Sambil menunggu jalannya demo para sopir tersebut, kami sempat berbicara dengan rekan - rekan polisi. Mereka bilang, " Pak jangan keluar dulu, biar mereka berorasi dan pada akhirnya disepakati adanya perwakilan untuk berembug mencari solusi dalam penanganan masalah trayek Dapur 12- Jodoh tersebut.
Dengan membawa berbagai nada protes yang dituliskan pada kertas karton putih, sekilas hujatan dan tuntutan yang mereka minta tidak pantes bahkan terkesan melecehkan. Kehadiran saya ketika diminta untuk menerima demo mereka pun juga dijawab dengan rasa kecewa. Melalui berbagai upaya pada akhirnya, mereka ( para pendemo ) bersedia untuk musyawarah dalam memecahkan tuntutan mereka.
Dari hasil pertemuan tersebut, intinya Dishub akan melakukan pengawasan dan penertiban terhadap trayek Dapur 1- Jodoh. Kalau dilihat memang itu tugas dari instansi tersebut, namun kalau kita cermati lebih dalam dalam pola pembinaan, tentunya secara berjenjang dalam transportasi adalah Dishub- Organda- Badan Usaha/ Koperasi- sopir.
Justru dari sejak awal bekerja pada Dishub awal Februari lalu, setiap demo yang dilakukan oleh Lubis dkk tidak adanya Koperasi atau Badan yang menaungi para sopir yang memiliki trayek Dapur 12-Jodoh tersebut hadir untuk melihat dan paling tidak ada upaya yang dilakukan sebagai bagian pembinaan bagi para sopir.
Disamping itu, Organda sebagai Mitra tentunya juga melakukan pembinaan dan pertemuan secara berkala dalam ikut menciptakan transportasi di Batam yang bisa terjangkau dan melayani route seperti yang diamanahkan dalam Perda nomer 9 tahun 2001.
Pada akhirnya, keruwetan bisa saja dipilah dan diperbaiki dengan peningkatan sistem yang ada. Pola pembinaan secara berjenjang, pengawsan dan penertiban terhadap sopir yang bandel dan sebagai regulator tentu diupayakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tidak memberikan celah dalam timbulnya permasalahan yang ada pada transportasi di batam

Rabu, 2009 Januari 28

Pemilu Diambang Pintu

Kebiasaan mengamati memang mengasyikan dan bisa menjadi sebuah kelebihan yang terkadang tanpa kita sadari bisa membuat orang senang. Rasa penasaran terhadap Daftar Pemilih tetap ( DPT) mengusik untuk diliat dibaca dan sambil mencoba "membantu" tetangga agar bisa menyalurkan aspirasinya pada Pemilu mendatang.
Pertama-tama tentu melihat nama dan selanjutnya tanggal kelahiran, sambil iseng mengucapkan selamat ulang tahun dengan mengirim SMS. tentunya yang bersangkutan kaget dan membalas SMS dengan ucapan terima kasih dan ujungnya yang kita nantikan, " tau darimana ?
Tidak sebatas ulang tahun yang menjadi titik bidik dalam memeloti DPT, ukuran huruf relatif kecil untuk usia saya yang sudah memasuki kepala empat ini. Plus 1 1/2 sudah tentu membutuhkan kesabaran dan berulang kali dibaca agar tetangga terbantu mengetahui TPS yang akan dituju nantinya.
Kekawatiran tidak masuk dalam DPT seperti saya alami pada Pemilihan Gubernur Kepri beberapa waktu yang lalu menjadikan keinginan tau makin kuat untuk melihat DPT Pemilu 2009 nanti. Begitu dicermati ternyata para tetangga saya yang sejak Pemilu 2004 baik saat Pemilihan legislatief, Presiden, Gubernur, Walikota Batam senantiasa berada dalam satu TPS, untuk kali ini, para tetangga tersebar kedalam lima TPS yang berbeda.
Dari otak atik DPT, ternyata ada manfaatnya. Selain bisa mengetahui lebih dekat para tetangga kita yang nota bene selama ini para istri lebih banyak dompleng pada nama suami atau nama anak sulung ternyata kita mendapatkan kepercayaan sebagai yang mengetahui dan memahami soal DPT, Alhamdullilah.
Tanpa disadari bahwa kebiasaan mendompleng nama suami ikut menyulitkan dalam pencarian nama dalam DPT. Dengan memperhatikan alamat tempat tinggal, kita pada akhirnya bisa mengetahui nama seseorang, tapi tidak selamanya itu benar, terbukti salah alamat dalam DPT masih saja terjadi, makanya cara lain kita bisa telusuri dengan tempat dan tanggal kelahiran.
Menyangkut Pemilu 2009 atau tepatnya tanggal 09 April mendatang, kerja keras memang harus dilakukan. Kalau warga passive sementara petugas KPPS tidak tau alamat para pemilih ini menjadi kendala untuk bisa melanagsungkan Pemilu secara maksimal, partisipasi semua pihak jelas diperlukan.
Anggapan ngumpul untuk silahturahmi sambil menyalurkan aspirasi itu mungkin yang perlu digalakkan. Makin banyak silahturahmi konon bisa menambah usia kita, bahkan dengan berkumpul sesama tetangga bisa saling curhat. Ada rasa kepuasan kalau pilihan kita bisa jadi, artinya harapan kita mengenal para caleg itu sudah mencukupi dan harapan untuk terjadinya perubahan kesampingkan terlebih dahulu.
Sama seperti kita memfavoritkan sebuah tim dalam suatu pertandingan, menang kita merasa senang dan bangga bahwa jagoan kita bisa mencapai seperti diharapkan, namun toch kegembiraan itu sifatnya semu.
Lain halnya bila pilihan kita bisa menjadi " wakil rakyat ", namanya saja wakil rakyat sudah tentu tidak mewakili kita saja, rakyat Batam, Kepri dan Indonesia secara keseluruhan. Jadi lebih baik memilih daripada tidak, paling tidak tanggung jawab sebagai warganegara sudah kita laksanakan, soal menang kalah biasa itu namanya pilihan.
Cara pandang yang positif harus kita kedepankan, niat baik akan memberikan kita keikhlasan tanpa adanya sebuah keterpaksaan, pada akhirnya kita harus bisa belajar untuk bisa menerima sebuah kekurangan untuk suatu proses pembelajaran....

Selasa, 2009 Januari 06

Anak, Hiburan dan Harapan

Enak cerita anak, daripada cerita pekerjaan. Jelang tahun baru, kami berkesempatan untuk merayakan bersama-sama dengan keluarga dan tetangga dekat. Si bungsu lagi " apes", sehari menjelang tahun baru 2009, terkena cacar, untung kata dokter segera diperiksa dan tidak begitu terlambat.
Memang sich, dokter bilang tidak masalah kalau renang, namun akibat kurangnya pengertian yang sama, Icha justru terkucilkan dari gerombolan temen sebaya. Rasa ketakutan ketularan menjadi si bungsu lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar hotel.
Kendati masih TK, namun yang menjadi rasa haru tumbuh sebagai orangtua, ketika Icha menulis pada sebuah halaman koran terbitan Batam, yang ditulis dengan pensil bertuliskan " Ada cacar di Tiban Blok N, namanya Icha. Jangan dekat bahaya" begitu bunyi yang tertera pada kolom iklan berwarna.
Ketika saya sampaikan bahwa tidak menular dengan bukti bahwa saya masih mau mengendong dan deket, jawabnya " Ya tidak nular karena bapaknya, sebuah jawaban polos yang memberikan kita bahwa anak tetap membutuhkan perhatian dan juga kasih sayang dengan orangtuanya.
Belum kering cacar yang dideritanya, tiba saatnya masuk sekolah. Secara kebetulan kedua abangnya terima rapot, yang SMP alhamdulilah nilainya cukup buat beli krupuk begitu saya mengomentari nilai yang didapat Fadly anak kedua saya. Lain cerita dengan yang SMA, secara kebetulan saya sendiri yang ambil, nilai yang didapat tidak lebih dari sebatas pantas begitu komentar sang wali kelas.
Sebagai orangtua, tentu ingin memberi komentar, keduanya sengaja saya nilai kurang rajin dan terlalu banyak nonton tv. Maka ceritalah masa lalu ketika masih di SMP dan SLTA dengan menunjukan nilai rapor yang masih tersisa rapi di lemari.
Cerita tentang jalan kaki ke sekolah dan belajar dengan pakai lampu petromak dengan maksud untuk membandingkan bahwa anak-anak sekarang lebih "enak" untuk belajar, justru mendapatkan jawaban yang mengagetkan. "Itu khan dulu pa, sekarang khan beda. Loh jadi dengan kondisi yang lebih enak, hasilnya emang beda juga, namun disayangkan nilainya malah lebih kecil dari jaman dahulu.
Jadi orangtua jaman sekarang memang susah - susah gampang, berharap ingin anaknya seperti kita jaman dahulu tidak usah perlu berharap. Mereka tidak nakal saja kita sudah bersyukur, apalagi punya prestasi. Tugas kita memberi kasih sayang, memberi mereka pendidikan dan juga bimbingan mungkin itu yang wajib.
Kalau dipikirin terus seperti kenakalan dan bandel tentu bikin rambut cepat ubanan, Masing - masing anak sudah ada suratan hidupnya itu saja yang dipikir. Berharap jadi pemain sepakbola, anak justru suka main bulutangkis, berharap yang kedua mau olahraga malah cenderung tidak suka olahraga.
Pada akhirnya, anak memang menarik dibahas dan diceritakan, seperti halnya liat anak kecil kita jadi ingat anak kita, tapi kalau liat perempuan seakan - akan sengaja atau pura-pura lupa orang rumah. Kembali kepada masing - masing, intinya anak memang harapan yang bisa dinantikan, corat-coret kita sejak kecil sampai menjelang remaja akan menjadi buah yang pada akhirnya bisa membahagiakan kita nantinya.

Senin, 2008 Desember 22

Perseteruan Inggris vs Italia

Tiga dari empat wakil Inggris harus saling bunuh dalam putaran 16 besar Liga Champion melawan wakil Italia. Inter akan menghadapi jawara tahun lalu Manchester United, The Blues julukan Chelsea menghadapi Juventus dan Arsenal akan melawan AS Roma.
Dua diantaranya akan bertindak sebagai tuan rumah lebih awal yaitu Arsenal dan Chelsea, faktor tuan rumah akan sangat menentukan langkah berikutnya bagi sebuah tim. Melihat peta kekuatan yang saat ini sedang berlangsung untuk ukuran Liga masing - masing negara, posisi Roma dan Inter justru lebih diunggulkan untuk menapaki babak selanjutnya.
Kelelahan yang dialami oleh para pemain tim asuhan Alex Fergusson menjadikan perjalanan menghadapi Inter dan faktor Mourinho dibelakang Inter akan menjadi kendala bagi Rooney dkk dalam mempertahankan gelarnya. Sukses dalam menangani Chelsea menjadi juara Liga mengkakangi MU dan Liverpool menjadi catatan bagi Mourinho untuk menghadapi MU.
Sementara Arsenal yang sangat fluktuatif penampilan akibat rotasi pemain , akan melawan Roma yang sudah memasuki track permainan yang diharapkan seperti tampilan pada Liga Calcio. Sukses anak asuh Wenger ditentukan pada saat menjamu Roma nantinya di kandang stadion Highburry.
Keberuntungan dialami oleh tim yang tidak diunggulkan seperti Villareal dan Panathinaikos yang relative memiliki peluang untuk lolos putaran 8 besar. Madrid justru menghadapi The Reds juluikan Liverpool yang sedang on fire pada Liga Premiere, faktor Torres yang akan menentukan partai ini.
Melihat kondisi riil penampilan tim yang lolos 16 besar, partai ideal memang layak ditunggu, pertemuan wakil Inggris melawan Italia sangat kita tunggu, dalam lima tahun terahkir, wakil dari dua negara tersebut yang selalu tampil di final.
Pesaing terdekat, Spanyol yang berharap pada penampilan Barca yang kemungkinan akan lolos dengan lawan Lyon yang relative bisa ditundukkan. Februari tahun depan itu jawabannya....

Senin, 2008 November 24

Budak Lengkang,Antara Tradisi Bahari dan Prestasi


Perjuangan anak-anak Pulau Lengkang untuk mempertahankan juara Dragon Boat Race di Tanjung Pinang memang membanggakan. Tidak ada keluhan menyangkut persiapan dan selama mengikuti perlombaan yang menempuh jarak 600 meter tersebut di pantai Tanjung Pinang.
Untuk menjangkau Pulau tersebut, kita butuh waktu 25 menit dari pelabuhan antar Pulau di Sekupang. Begitu mendarat pada salah satu rumah penduduk, kita akan jumpai hamparan tanah yang sering digunakan oleh anak – anak pulau tersebut memainkan bola.
Permukaan tanah lapang tersebut yang tidak rata dan adanya kerikil pada permukaan justru telah membentuk fisik dan mental yang kuat dalam mengarungi hidup. Tempaan ombak, angin dan pasang surut membuat tekad mereka untuk menjadi yang terbaik.
Dalam partisipasi lomba dayung baik yang bertitel Sea Eagle maupun Dragon Boat telah mereka ikuti dengan hasil yang senantiasa masuk final serta keberhasilan meraih juara merupakan bukti bahwa mereka layak diberi penghargaan.
Yel-Yel untuk membakar semangat bertanding mereka punya, sebuah kreatifitas yang jelas menjadi salah satu kunci dalam menggalang rasa kebersamaan. Pengalaman mendayung yang telah dialami sejak kecil memberikan suntikan ketika menghadapi masalah dalam sebuah perlombaan.
Pesaing dalam lomba juga tidak saja lokal Batam, Kaltim, Jambi, Sumbar, Jakarta yang selama ini menjadi jawara pada even yang bertajuk Dragon Boat ternyata mengakui keperkasaan Jumaat dkk dalam meraih gelar juara.
Salah satunya berasal dari Eva manajer tim Padang, “ Batam Merah layak tampil pada even nasional,”. Melihat cara mereka memutar dan mendayung juga mereka akui memiliki cirri yang khas untuk mendayung di laut.
Pengaturan tempo dan menjaga kebugaran senantiasa mereka pertahankan. Begitu mendengar babak perempat final, semi final dan final dilakukan dalam satu hari, tentu butuh kebugaran untuk bermain tiga kali dalam sehari yang tidak seperti biasanya.
Tidak ngotot ketika berlomba pada babak perempat final dan lebih mementingkan untuk masuk final menjadi salah satu kunci keberhasilan Batam Merah mempertahankan gelar.
Berbeda dengan tim lain yang justru memaksakan catatan waktu tercepat tidak mendukung dalam mendulang prestasi juara pada putaran final, factor kelelahan tim lain saat final menjadi bukti akibat diforsir pada babak sebelum final bahkan ada yang pingsan ketika memasuki garis finish.
Dari prestasi yang telah ditoreh oleh anak-anak Pulau Lengkang sudah selayaknyalah mereka diberi kesempatan untuk berprestasi pada tingkatan yang lebih tinggi lagi. Disamping itu, tidak ada salahnya bila Pulau Lengkang dijadikan Pusat Pelatihan Olahraga Dayung, Cano yang tentu tidak beda jauh.
Prestasi sudah terbukti, tradisi bahari yang mengakar dengan mendayung merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari – hari dukungan dan perhatian untuk menjadi Pulau penghasil atlit kebanggaan Batam dan Propinsi Kepri layak diwujudkan.

Kamis, 2008 November 06

Pawang Juga Manusia


Pembukaan POPWIL I se Sumatra tahun 2008 telah dilakukan, multi even olahraga yang untuk pertama kalinya digelar di Batam tersebut telah memberi pengalaman kita semua pelaku dunia olahraga soal mensikapi situasi dan kondisi.
Salah satunya soal hujan, kendati sudah dipersiapkan seorang pawang toch ketika hujan turun tidak juga mampu menahan turunnya hujan atau biasa disampaikan bahwa tugas pawang adalah memindahkan hujan ke tempat lain, bukan meniadakan hujan. Kendati sudah komat - kamit dan melakukan berbagai ritual hujan tetap turun dan itu bahkan menjadi tontotan dari semua yang hadir.
Kondisi hujan tidak menyurutkan panitia untuk tetap mengadakan pembukaan, defile tetap dilakukan dan kendati adanya kontingen yang mangkir untuk defile, the show must go on juga.
Kembali soal pawang, sebagian penonton menilai akibat arogansi sang pawang. Tidak semua pawang hujan menampakn diri ketika sedang menjalani ritual untuk memindahkan hujan, justru dengan "unjuk rasa" didepan penonton ternyata hujan tetap saja turun dan bahkan makin deras.
Manusia sebatas usaha, itu filosofi hidup, namun bila usaha itu dilakukan secara khusuk dan tidak terkesan pamer hasilnya pun akan lebih nampak. Dengan menonjolkan kemampuan malah mendapatkan cemooh dan hal itu justru tidak mendukung dalam bentuk doa malah sebaliknya.
Hal lain soal defile, melihat hujan turun, panitia mengurangi jumlah atlit yang mengikuti defile untuk mempersingkat waktu serta menghindari banyaknya atlit yang kehujanan yang akan berpengaruh terhadap kondisi atlit yang bersangkutan.
Soal atraksi juga perlu pertimbangan untuk kegiatan yang dilakukan pada tempat terbuka, terjun payung misalnya baru dilaksanakan setelah atraksi tarian anak - anak selesai dengan pertimbangan kondisi cuaca tidak mengganggu para penerjun.
Semua kegiatan memang perlu pertimbangan, pawang manusia juga yang tentu ada keterbatasan, sebagai manusia juga tidak luput dari kekurangan , dengan usaha dan tidak takabur bisa saja sebuah upaya akan mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan. Pengalaman memang guru yang sangat berharga,

Rabu, 2008 Oktober 22

Pengemis Masalah Kita Semua

Keinginan untuk menulis soal pengemis menguat, dengan adanya berita soal penyekapan anak oleh orangtua sendiri akibat tidak mau dipaksa untuk bekerja sebagai " pengemis ", Tribun (22/10).
Sejak pertama kali di Batam pada Mei 1998, pemandangan pengemis di simpang jalan nyaris tidak pernah ada. Keberadaan mereka lebih banyak pada pujasera atau pertokoan dengan penampilan tanpa melibatkan bayi atau anak kecil seperti saat ini untuk menimbulkan kesan iba.
Saat ini, keberadaan pengemis sudah semakin mengganggu dan mengurangi pemandangan dengan kehadiran mereka pada simpang - simpang jalan seperti Simpang Jam, Simpang dekat UIB, Simpang Baloi, Sungai Panas Batam Center serta dekat Mc Donald Jodoh.
Dari sisi pengemis, membawa anak dibawah umur jelas telah mentelantarkan mereka(bayi/anak yang dibawa ) dari segi fisik akibat panas, hujan, polusi kendaraan. Hal yang menarik adalah ada pola musim para pengemis itu dengan lokasi yang berbeda. Seperti halnya saat puasa kemarin, pada simpang jam senantiasa pada pagi hari kita jumpai wanita paruh umur yang mengemis.
Sejak senin (20/10) kemarin seiring perjalanan menuju kantor, pemandangan tersebut sudah mulai berkurang, tidak ada lagi keberadaannya. Bisa jadi yang bersangkutan kembali ke kampung atau pindah lokasi untuk menimbulkan kesan baru pada lokasi yang tentu baru juga.
Departemen Sosial pusat pun juga gerah dengan keberadaan pengemis tersebut, pola pelatihan untuk memberikan ketrampilan tidak juga memberikan hasil yang nyata untuk mengurangi jumlah pengemis di Jakarta. Demikian juga pihak Dinas Sosial Batam yang melakukan razzia dan memberikan bimbingan mental masih saja belum cukup untuk mengurangi populasi pengemis di Batam.
Harus disadari bahwa keberadaan pengemis akibat krisis ekonomi serta tidak dipungkiri dari beberapa pertimbangan seperti mentalitas serta adanya oknum yang sengaja memanfaatkan pengemis tersebut menjadi sebuah " pekerjaan ".
Mengingat pengemis sudah merupakan masalah kita juga, ada baiknya semua pihak ikut berperan serta dalam meminimalisir keberadaannya. Bisa saja peran masyarakat untuk tidak memberikan " sedekah " pada tempat - tempat yang dianggap mengganggu lalu lintas.
Bisa saja sedekah diberikan kepada panti sosial yang ada di Batam. bila saja pemberian ini bisa dikurangi, secara otomatis akan berpengaruh terhadap jumlah pengemis yang tentunya tidak akan tahan berlama-lama bila " mata pencaharian " yang selama ini bisa mereka peroleh berkisar 100 - 200 ribu semakin berkurang.
Seperti disampaikan oleh Dinsos Batam, bahwa keberadaan pengemis tersebut sebagian besar bukan penduduk Batam sudah tentu bagi masyarakat Batam ikut berperan dalam mencerminkan Batam bersih ( berkurang ) dari keberadaan pengemis.
Dengan kerjasama semua pihak baik itu LSM, masyarakat dan pemerintah , kemungkinan besar pengemis di Batam bisa diminimalisir, paling tidak lokasi nya tidak lagi beroperasi pada simpang - simpang jalan, selain mengganggu pemandangan juga kekawatiran adanya gangguan lalu lintas...