Enak cerita anak, daripada cerita pekerjaan. Jelang tahun baru, kami berkesempatan untuk merayakan bersama-sama dengan keluarga dan tetangga dekat. Si bungsu lagi " apes", sehari menjelang tahun baru 2009, terkena cacar, untung kata dokter segera diperiksa dan tidak begitu terlambat.
Memang sich, dokter bilang tidak masalah kalau renang, namun akibat kurangnya pengertian yang sama, Icha justru terkucilkan dari gerombolan temen sebaya. Rasa ketakutan ketularan menjadi si bungsu lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar hotel.
Kendati masih TK, namun yang menjadi rasa haru tumbuh sebagai orangtua, ketika Icha menulis pada sebuah halaman koran terbitan Batam, yang ditulis dengan pensil bertuliskan " Ada cacar di Tiban Blok N, namanya Icha. Jangan dekat bahaya" begitu bunyi yang tertera pada kolom iklan berwarna.
Ketika saya sampaikan bahwa tidak menular dengan bukti bahwa saya masih mau mengendong dan deket, jawabnya " Ya tidak nular karena bapaknya, sebuah jawaban polos yang memberikan kita bahwa anak tetap membutuhkan perhatian dan juga kasih sayang dengan orangtuanya.
Belum kering cacar yang dideritanya, tiba saatnya masuk sekolah. Secara kebetulan kedua abangnya terima rapot, yang SMP alhamdulilah nilainya cukup buat beli krupuk begitu saya mengomentari nilai yang didapat Fadly anak kedua saya. Lain cerita dengan yang SMA, secara kebetulan saya sendiri yang ambil, nilai yang didapat tidak lebih dari sebatas pantas begitu komentar sang wali kelas.
Sebagai orangtua, tentu ingin memberi komentar, keduanya sengaja saya nilai kurang rajin dan terlalu banyak nonton tv. Maka ceritalah masa lalu ketika masih di SMP dan SLTA dengan menunjukan nilai rapor yang masih tersisa rapi di lemari.
Cerita tentang jalan kaki ke sekolah dan belajar dengan pakai lampu petromak dengan maksud untuk membandingkan bahwa anak-anak sekarang lebih "enak" untuk belajar, justru mendapatkan jawaban yang mengagetkan. "Itu khan dulu pa, sekarang khan beda. Loh jadi dengan kondisi yang lebih enak, hasilnya emang beda juga, namun disayangkan nilainya malah lebih kecil dari jaman dahulu.
Jadi orangtua jaman sekarang memang susah - susah gampang, berharap ingin anaknya seperti kita jaman dahulu tidak usah perlu berharap. Mereka tidak nakal saja kita sudah bersyukur, apalagi punya prestasi. Tugas kita memberi kasih sayang, memberi mereka pendidikan dan juga bimbingan mungkin itu yang wajib.
Kalau dipikirin terus seperti kenakalan dan bandel tentu bikin rambut cepat ubanan, Masing - masing anak sudah ada suratan hidupnya itu saja yang dipikir. Berharap jadi pemain sepakbola, anak justru suka main bulutangkis, berharap yang kedua mau olahraga malah cenderung tidak suka olahraga.
Pada akhirnya, anak memang menarik dibahas dan diceritakan, seperti halnya liat anak kecil kita jadi ingat anak kita, tapi kalau liat perempuan seakan - akan sengaja atau pura-pura lupa orang rumah. Kembali kepada masing - masing, intinya anak memang harapan yang bisa dinantikan, corat-coret kita sejak kecil sampai menjelang remaja akan menjadi buah yang pada akhirnya bisa membahagiakan kita nantinya.
Selasa, 06 Januari 2009
Anak, Hiburan dan Harapan
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
21.38
1 komentar
Senin, 22 Desember 2008
Perseteruan Inggris vs Italia
Tiga dari empat wakil Inggris harus saling bunuh dalam putaran 16 besar Liga Champion melawan wakil Italia. Inter akan menghadapi jawara tahun lalu Manchester United, The Blues julukan Chelsea menghadapi Juventus dan Arsenal akan melawan AS Roma.
Dua diantaranya akan bertindak sebagai tuan rumah lebih awal yaitu Arsenal dan Chelsea, faktor tuan rumah akan sangat menentukan langkah berikutnya bagi sebuah tim. Melihat peta kekuatan yang saat ini sedang berlangsung untuk ukuran Liga masing - masing negara, posisi Roma dan Inter justru lebih diunggulkan untuk menapaki babak selanjutnya.
Kelelahan yang dialami oleh para pemain tim asuhan Alex Fergusson menjadikan perjalanan menghadapi Inter dan faktor Mourinho dibelakang Inter akan menjadi kendala bagi Rooney dkk dalam mempertahankan gelarnya. Sukses dalam menangani Chelsea menjadi juara Liga mengkakangi MU dan Liverpool menjadi catatan bagi Mourinho untuk menghadapi MU.
Sementara Arsenal yang sangat fluktuatif penampilan akibat rotasi pemain , akan melawan Roma yang sudah memasuki track permainan yang diharapkan seperti tampilan pada Liga Calcio. Sukses anak asuh Wenger ditentukan pada saat menjamu Roma nantinya di kandang stadion Highburry.
Keberuntungan dialami oleh tim yang tidak diunggulkan seperti Villareal dan Panathinaikos yang relative memiliki peluang untuk lolos putaran 8 besar. Madrid justru menghadapi The Reds juluikan Liverpool yang sedang on fire pada Liga Premiere, faktor Torres yang akan menentukan partai ini.
Melihat kondisi riil penampilan tim yang lolos 16 besar, partai ideal memang layak ditunggu, pertemuan wakil Inggris melawan Italia sangat kita tunggu, dalam lima tahun terahkir, wakil dari dua negara tersebut yang selalu tampil di final.
Pesaing terdekat, Spanyol yang berharap pada penampilan Barca yang kemungkinan akan lolos dengan lawan Lyon yang relative bisa ditundukkan. Februari tahun depan itu jawabannya....
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
09.53
0
komentar
Senin, 24 November 2008
Budak Lengkang,Antara Tradisi Bahari dan Prestasi

Perjuangan anak-anak Pulau Lengkang untuk mempertahankan juara Dragon Boat Race di Tanjung Pinang memang membanggakan. Tidak ada keluhan menyangkut persiapan dan selama mengikuti perlombaan yang menempuh jarak 600 meter tersebut di pantai Tanjung Pinang.
Untuk menjangkau Pulau tersebut, kita butuh waktu 25 menit dari pelabuhan antar Pulau di Sekupang. Begitu mendarat pada salah satu rumah penduduk, kita akan jumpai hamparan tanah yang sering digunakan oleh anak – anak pulau tersebut memainkan bola.
Permukaan tanah lapang tersebut yang tidak rata dan adanya kerikil pada permukaan justru telah membentuk fisik dan mental yang kuat dalam mengarungi hidup. Tempaan ombak, angin dan pasang surut membuat tekad mereka untuk menjadi yang terbaik.
Dalam partisipasi lomba dayung baik yang bertitel Sea Eagle maupun Dragon Boat telah mereka ikuti dengan hasil yang senantiasa masuk final serta keberhasilan meraih juara merupakan bukti bahwa mereka layak diberi penghargaan.
Yel-Yel untuk membakar semangat bertanding mereka punya, sebuah kreatifitas yang jelas menjadi salah satu kunci dalam menggalang rasa kebersamaan. Pengalaman mendayung yang telah dialami sejak kecil memberikan suntikan ketika menghadapi masalah dalam sebuah perlombaan.
Pesaing dalam lomba juga tidak saja lokal Batam, Kaltim, Jambi, Sumbar, Jakarta yang selama ini menjadi jawara pada even yang bertajuk Dragon Boat ternyata mengakui keperkasaan Jumaat dkk dalam meraih gelar juara.
Salah satunya berasal dari Eva manajer tim Padang, “ Batam Merah layak tampil pada even nasional,”. Melihat cara mereka memutar dan mendayung juga mereka akui memiliki cirri yang khas untuk mendayung di laut.
Pengaturan tempo dan menjaga kebugaran senantiasa mereka pertahankan. Begitu mendengar babak perempat final, semi final dan final dilakukan dalam satu hari, tentu butuh kebugaran untuk bermain tiga kali dalam sehari yang tidak seperti biasanya.
Tidak ngotot ketika berlomba pada babak perempat final dan lebih mementingkan untuk masuk final menjadi salah satu kunci keberhasilan Batam Merah mempertahankan gelar.
Berbeda dengan tim lain yang justru memaksakan catatan waktu tercepat tidak mendukung dalam mendulang prestasi juara pada putaran final, factor kelelahan tim lain saat final menjadi bukti akibat diforsir pada babak sebelum final bahkan ada yang pingsan ketika memasuki garis finish.
Dari prestasi yang telah ditoreh oleh anak-anak Pulau Lengkang sudah selayaknyalah mereka diberi kesempatan untuk berprestasi pada tingkatan yang lebih tinggi lagi. Disamping itu, tidak ada salahnya bila Pulau Lengkang dijadikan Pusat Pelatihan Olahraga Dayung, Cano yang tentu tidak beda jauh.
Prestasi sudah terbukti, tradisi bahari yang mengakar dengan mendayung merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari – hari dukungan dan perhatian untuk menjadi Pulau penghasil atlit kebanggaan Batam dan Propinsi Kepri layak diwujudkan.
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
08.47
1 komentar
Kamis, 06 November 2008
Pawang Juga Manusia

Pembukaan POPWIL I se Sumatra tahun 2008 telah dilakukan, multi even olahraga yang untuk pertama kalinya digelar di Batam tersebut telah memberi pengalaman kita semua pelaku dunia olahraga soal mensikapi situasi dan kondisi.
Salah satunya soal hujan, kendati sudah dipersiapkan seorang pawang toch ketika hujan turun tidak juga mampu menahan turunnya hujan atau biasa disampaikan bahwa tugas pawang adalah memindahkan hujan ke tempat lain, bukan meniadakan hujan. Kendati sudah komat - kamit dan melakukan berbagai ritual hujan tetap turun dan itu bahkan menjadi tontotan dari semua yang hadir.
Kondisi hujan tidak menyurutkan panitia untuk tetap mengadakan pembukaan, defile tetap dilakukan dan kendati adanya kontingen yang mangkir untuk defile, the show must go on juga.
Kembali soal pawang, sebagian penonton menilai akibat arogansi sang pawang. Tidak semua pawang hujan menampakn diri ketika sedang menjalani ritual untuk memindahkan hujan, justru dengan "unjuk rasa" didepan penonton ternyata hujan tetap saja turun dan bahkan makin deras.
Manusia sebatas usaha, itu filosofi hidup, namun bila usaha itu dilakukan secara khusuk dan tidak terkesan pamer hasilnya pun akan lebih nampak. Dengan menonjolkan kemampuan malah mendapatkan cemooh dan hal itu justru tidak mendukung dalam bentuk doa malah sebaliknya.
Hal lain soal defile, melihat hujan turun, panitia mengurangi jumlah atlit yang mengikuti defile untuk mempersingkat waktu serta menghindari banyaknya atlit yang kehujanan yang akan berpengaruh terhadap kondisi atlit yang bersangkutan.
Soal atraksi juga perlu pertimbangan untuk kegiatan yang dilakukan pada tempat terbuka, terjun payung misalnya baru dilaksanakan setelah atraksi tarian anak - anak selesai dengan pertimbangan kondisi cuaca tidak mengganggu para penerjun.
Semua kegiatan memang perlu pertimbangan, pawang manusia juga yang tentu ada keterbatasan, sebagai manusia juga tidak luput dari kekurangan , dengan usaha dan tidak takabur bisa saja sebuah upaya akan mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan. Pengalaman memang guru yang sangat berharga,
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
10.43
0
komentar
Rabu, 22 Oktober 2008
Pengemis Masalah Kita Semua
Keinginan untuk menulis soal pengemis menguat, dengan adanya berita soal penyekapan anak oleh orangtua sendiri akibat tidak mau dipaksa untuk bekerja sebagai " pengemis ", Tribun (22/10).
Sejak pertama kali di Batam pada Mei 1998, pemandangan pengemis di simpang jalan nyaris tidak pernah ada. Keberadaan mereka lebih banyak pada pujasera atau pertokoan dengan penampilan tanpa melibatkan bayi atau anak kecil seperti saat ini untuk menimbulkan kesan iba.
Saat ini, keberadaan pengemis sudah semakin mengganggu dan mengurangi pemandangan dengan kehadiran mereka pada simpang - simpang jalan seperti Simpang Jam, Simpang dekat UIB, Simpang Baloi, Sungai Panas Batam Center serta dekat Mc Donald Jodoh.
Dari sisi pengemis, membawa anak dibawah umur jelas telah mentelantarkan mereka(bayi/anak yang dibawa ) dari segi fisik akibat panas, hujan, polusi kendaraan. Hal yang menarik adalah ada pola musim para pengemis itu dengan lokasi yang berbeda. Seperti halnya saat puasa kemarin, pada simpang jam senantiasa pada pagi hari kita jumpai wanita paruh umur yang mengemis.
Sejak senin (20/10) kemarin seiring perjalanan menuju kantor, pemandangan tersebut sudah mulai berkurang, tidak ada lagi keberadaannya. Bisa jadi yang bersangkutan kembali ke kampung atau pindah lokasi untuk menimbulkan kesan baru pada lokasi yang tentu baru juga.
Departemen Sosial pusat pun juga gerah dengan keberadaan pengemis tersebut, pola pelatihan untuk memberikan ketrampilan tidak juga memberikan hasil yang nyata untuk mengurangi jumlah pengemis di Jakarta. Demikian juga pihak Dinas Sosial Batam yang melakukan razzia dan memberikan bimbingan mental masih saja belum cukup untuk mengurangi populasi pengemis di Batam.
Harus disadari bahwa keberadaan pengemis akibat krisis ekonomi serta tidak dipungkiri dari beberapa pertimbangan seperti mentalitas serta adanya oknum yang sengaja memanfaatkan pengemis tersebut menjadi sebuah " pekerjaan ".
Mengingat pengemis sudah merupakan masalah kita juga, ada baiknya semua pihak ikut berperan serta dalam meminimalisir keberadaannya. Bisa saja peran masyarakat untuk tidak memberikan " sedekah " pada tempat - tempat yang dianggap mengganggu lalu lintas.
Bisa saja sedekah diberikan kepada panti sosial yang ada di Batam. bila saja pemberian ini bisa dikurangi, secara otomatis akan berpengaruh terhadap jumlah pengemis yang tentunya tidak akan tahan berlama-lama bila " mata pencaharian " yang selama ini bisa mereka peroleh berkisar 100 - 200 ribu semakin berkurang.
Seperti disampaikan oleh Dinsos Batam, bahwa keberadaan pengemis tersebut sebagian besar bukan penduduk Batam sudah tentu bagi masyarakat Batam ikut berperan dalam mencerminkan Batam bersih ( berkurang ) dari keberadaan pengemis.
Dengan kerjasama semua pihak baik itu LSM, masyarakat dan pemerintah , kemungkinan besar pengemis di Batam bisa diminimalisir, paling tidak lokasi nya tidak lagi beroperasi pada simpang - simpang jalan, selain mengganggu pemandangan juga kekawatiran adanya gangguan lalu lintas...
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
08.09
0
komentar
Kamis, 16 Oktober 2008
Menimang Para Caleg Batam
Tidak lama lagi tepatnya tanggal 9 April 2009, kita akan melakukan Pemilu yang memilih para anggota dewan dari kota, propinsi, pusat dan DPD. Hiruk pikuk kampanye dan juga dampak yang akan timbul sudah tentu harus secepatnya disikapi oleh semua pihak mulai dari para caleg, masyarakat pemilih, aparat sampai pada KPUD yang bertanggung jawab terhadap penghitungan suara nantinya.
Bisa dibayangkan nantinya dari sembilan ratus lebih caleg untuk DPRD Batam berebut untuk meraih kursi sebanyak 45 buah dari613.510 pemilih yang ada. Kalau dibagi saja untuk dapat kursi butuh suara 18 ribuan suara, itu kalau seluruhnya pemilih hadir menyalurkan suaranya.
Sementara persaingan diantara mereka saja, 1:20 sebuah persaingan yang maha ketat dan butuh perjuangan yang sangat melelahkan. Belum lagi salah satu aturan dalam PEMILU kali ini hanya nama yang dicantumkan dalam kertas suara.
Lalu terbersit dalam pikiran kita, sudah siap belum, para caleg nantinya bila mengalami sebuah kekalahan ? tidak terpilih maksudnya.Biaya untuk menjadi caleg saja konon ada yang ratusan juta dan puluhan juta sebuah nilai yang saat ini sulit untuk dapat mencari dalam kurun waktu yang singkat.
Masyarakat saat ini juga sudah semakin cerdas dengan memilih yang sesuai dengan nurani serta melihat track record dari para caleg yang nantinya akan dipilih.Persaingan tingkat Dapil(Daerah Pilihan ) saja sudah begitu kentara, bercokolnya para ketua DPC partai pada satu Dapil itu sudah merupakan persaingan, belum lagi masing - masing Dapil paling mungkin terwakili 11-12 orang saja.
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
07.41
1 komentar
Senin, 13 Oktober 2008
Antara Macet, Nyawa dan Motor
Lebaran jalur darat lintas Utara maupun Selatan Solo - Jakarta macet itu sudah hal yang biasa. Dalam benak pikiran saya akan terjadi macet sudah terbayang begitu lepas dari Madiun usai mengikuti reuni SMA 1 Madiun angkatan 81. Lepas pukul 14.00 WIB, saya diantar temen Bandono untuk mencari bis jurusan Madiun- Solo, sengaja tidak ke terminal melainkan langsung ke daerah Jiwan yang merupakan wilayah dari Kota Madiun dengan pertimbangan lebih deket serta dimungkinkan untuk tidak antri panjang .
Sambil pamitan, salah seorang temen Eric namanya menyampaikan sebuah SMS yang menyebutkan bahwa Ngawi sedang macet. Kebayang ketinggalan bis jurusan Solo - Jakarta sudah masuk dalam benak pikiran. " Dicoba saja dulu Ric, demikian saya menjawab menanggapi SMS tersebut. Dalam hati, mungkin ini upaya temen - temen untuk bisa menahan saya lebih lama untuk ngobrol, maklum sudah 27 tahun lama tidak ketemu, tentu butuh ngobrol dan cerita masa indah SMA dulu.
Langkah kanan pikir saya, begitu turun dari mobil Bandono langsung ada bis jurusan Solo. Perjalanan siang yang panas dan bis tanpa AC menambah gerah badan memulai perjalanan balik ke Jakarta untuk ketemu keluarga. menempati tempat duduk di tengah dan secara kebetulam berdampingan dengan penumpang asal Solo yang bekerja di Madiun.
Berita tentang macet di daerah Ngawi atau kira- kira 40 Km dari Madiun sementara tidak terbukti, bis yang saya tumpangi lancar dan tanpa terasa telah sampai Ngawi, tempat dimana saya di lahirkan 46 tahun yang lalu. Hal yang menggembirakan adalah istri bupati Ngawi yang sekarang adalah suami Antiek temen se angkatan SMA 1 Madiun 27 tahun yang lalu.
Kemacetan bisa saja tidak terasa akibat asyik ngobrol dan kondisi macet tidak seperti yang digambarkan dalam berita lewat televisi swasta tadi pagi, artinya kendaraaan macet berjam - jam seperti di daerah Indramayu deket Cirebon. Singkatnya, sampai di terminal Solo, perjalanan ke agen bis Lorena Solo dengan naik becak yang ditempuh dalam waktu 15 menit saja.
Tertera dalam tiket, jadwal bis Lorena jurusan Solo - Jakarta pukul 18.00 Wib berangkat dari Solo. Tanda - tanda kemacetan mulai terbayang, keinginan mandi ditunda dengan pertimbangan kawatir tidak cukup waktu. Maka dicoba mengisi perut dengan makan pada salah satu rumah makan terdekat agen bis Lorena Solo tersebut.
Singkat waktu, pukul 20.00 Wib, bis meluncur menuju Jakarta, kecepetan sedang karena masih dalam wilayah perkotaan, namun suasana macet mulai terasa ketika masuk wilayah Purworejo. Bis lebih banyak berhenti daripada jalannya, kemacetan lebih diakibatkan jalan tidak sanggup menampung kendaraan yang melintasi jalan tersebut.
Jumlah motor hampir separuh badan jalan, selain sulit untuk bergerak bagi kendaraan roda empat, pantas saja sopir kami sempat meliuk liukan bis yang dikemudikannya akibat rasa jengkel rombongan motor yang mengganggu dan menghalangi perjalanan.
Macet menjadikan pikiran dan perut mulai bernyanyi, sopir tidak berani mengajak mampir untuk makan, menurutnya sekali kita berhenti, maka akan jauh lebih panjang lagi antrian kendaraan yang berjalan secara pelan dan macet tersebut.
Kondisi tersebut menjadikan beberapa penumpang mulai gerah dan mual, anak - anak kecil juga tidak ketinggalan. Rasa syukur kepikir karena sebelum berangkat tadi sempat mengisi bahan bakar terlebih dahulu, untuk sementara waktu kondisi tubuh saya masih laik untuk terlambat makan.
Hiburan yang bisa saya nikmati adalah SMS dan buka Website lewat HP 9300, tertarik ketika membaca sebuah berita tentang tabrakan para pemudik yang menikmati perjalanan dengan sepeda motor. Dalam pikiran terbersit, keinginan irit namun tidak memikirkan keselamatan.
Bayangkan saja, Jarak Madiun - Jakarta sejauh tujuh ratusan KM mampu mereka tempuh selama 24 jam non stop, sementara bis saja yang lebih besar memakai jasa dengan adanya 2 orang sopir. Pemerintah sudah saatnya mengatur arus mudik dengan mempertimbangkan jarak serta kendaraan yang digunakan. Penggunaan sepeda motor untuk jarak jauh sudah harus mulai diatur agar korban jiwa akibat aeus mudik lewat motor bisa dikurangi.
Kami baru bisa makan pada pukul empat pagi pada salah satu restoran di Gombong, bayangkan saja jarak Solo Gombong yang bisa ditempuh dalam waktu 4 jam normal harus ditempuh selama dua kali lipat dari waktu biasa atau 8 jam. Kepikir kejadian yang sama akan terulang lagi untuk perjalanan berikutnya, selain menyempatkan diri makan dan sholat juga sedikit membawa bekal cukup untuk kemungkinan nanti tidak mampir lagi.
Minggu tanggal 5 Oktober tepat hari bersejarah Hari ABRI ternyata membawa kisah tidak terlupakan dengan kondisi macet yang amat macet. Gombong - Purwokerto saja yang bisa ditempuh sejam kali ini lama banget dan memakan waktu 5 jam, sebuah kondisi yang amat jauh seperti ketika masih kuliah pada Fakultas Peternakan Unsoed.
Perjalanan macet memang sulit untuk dinikmati kecuali bagi yang bisa tidur dan juga ngobrol. Saya mencoba untuk ngobrol, namun tetap juga tidak bisa mengusir jenuh serta penat. Daerah Gombong, Karanganyar, Kebumen, Purwokerto merupakan waialayh yang dulu menjadi daerah saya jalan ketika kuliah di Unsoed tahun 1981- 1986.
Kondisi sekarang sedang tidak nyaman, seumur - umur macet selama 30 jam antara Solo _ jakarta menjadi kenangan yang berbanding terbalik antara perjalanan menuju Madiun dan pulang dari Madiun yang tujuan akhir adalah Jakarta.
Bis baru kembali berhenti untuk makan pukul 15.30 di daerah Indramayu, kemacetan tetap terus membayangi dan baru bisa lega begitu masuk tol cikampek, dan akhirnya daerah lebak bulus ( Jakarta Selatan ) begitu jarum jam menunjukkan waktu 00.30 Wib.
Sampai di rumah kakak yang berlakasi di Pondok Cabe pukul 01.00, masih berrsyukur kendati harus berlama dengan bis 30 jam perjalanan Solo - Jakarta namun masih juga ada yang bisa dikenang dan menunggu jawaban pemerintah menanggapi kemacetan yang sudah lewat ambang penantian
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
11.01
2
komentar
