
Pembukaan POPWIL I se Sumatra tahun 2008 telah dilakukan, multi even olahraga yang untuk pertama kalinya digelar di Batam tersebut telah memberi pengalaman kita semua pelaku dunia olahraga soal mensikapi situasi dan kondisi.
Salah satunya soal hujan, kendati sudah dipersiapkan seorang pawang toch ketika hujan turun tidak juga mampu menahan turunnya hujan atau biasa disampaikan bahwa tugas pawang adalah memindahkan hujan ke tempat lain, bukan meniadakan hujan. Kendati sudah komat - kamit dan melakukan berbagai ritual hujan tetap turun dan itu bahkan menjadi tontotan dari semua yang hadir.
Kondisi hujan tidak menyurutkan panitia untuk tetap mengadakan pembukaan, defile tetap dilakukan dan kendati adanya kontingen yang mangkir untuk defile, the show must go on juga.
Kembali soal pawang, sebagian penonton menilai akibat arogansi sang pawang. Tidak semua pawang hujan menampakn diri ketika sedang menjalani ritual untuk memindahkan hujan, justru dengan "unjuk rasa" didepan penonton ternyata hujan tetap saja turun dan bahkan makin deras.
Manusia sebatas usaha, itu filosofi hidup, namun bila usaha itu dilakukan secara khusuk dan tidak terkesan pamer hasilnya pun akan lebih nampak. Dengan menonjolkan kemampuan malah mendapatkan cemooh dan hal itu justru tidak mendukung dalam bentuk doa malah sebaliknya.
Hal lain soal defile, melihat hujan turun, panitia mengurangi jumlah atlit yang mengikuti defile untuk mempersingkat waktu serta menghindari banyaknya atlit yang kehujanan yang akan berpengaruh terhadap kondisi atlit yang bersangkutan.
Soal atraksi juga perlu pertimbangan untuk kegiatan yang dilakukan pada tempat terbuka, terjun payung misalnya baru dilaksanakan setelah atraksi tarian anak - anak selesai dengan pertimbangan kondisi cuaca tidak mengganggu para penerjun.
Semua kegiatan memang perlu pertimbangan, pawang manusia juga yang tentu ada keterbatasan, sebagai manusia juga tidak luput dari kekurangan , dengan usaha dan tidak takabur bisa saja sebuah upaya akan mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan. Pengalaman memang guru yang sangat berharga,
Kamis, 06 November 2008
Pawang Juga Manusia
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
10.43
0
komentar
Rabu, 22 Oktober 2008
Pengemis Masalah Kita Semua
Keinginan untuk menulis soal pengemis menguat, dengan adanya berita soal penyekapan anak oleh orangtua sendiri akibat tidak mau dipaksa untuk bekerja sebagai " pengemis ", Tribun (22/10).
Sejak pertama kali di Batam pada Mei 1998, pemandangan pengemis di simpang jalan nyaris tidak pernah ada. Keberadaan mereka lebih banyak pada pujasera atau pertokoan dengan penampilan tanpa melibatkan bayi atau anak kecil seperti saat ini untuk menimbulkan kesan iba.
Saat ini, keberadaan pengemis sudah semakin mengganggu dan mengurangi pemandangan dengan kehadiran mereka pada simpang - simpang jalan seperti Simpang Jam, Simpang dekat UIB, Simpang Baloi, Sungai Panas Batam Center serta dekat Mc Donald Jodoh.
Dari sisi pengemis, membawa anak dibawah umur jelas telah mentelantarkan mereka(bayi/anak yang dibawa ) dari segi fisik akibat panas, hujan, polusi kendaraan. Hal yang menarik adalah ada pola musim para pengemis itu dengan lokasi yang berbeda. Seperti halnya saat puasa kemarin, pada simpang jam senantiasa pada pagi hari kita jumpai wanita paruh umur yang mengemis.
Sejak senin (20/10) kemarin seiring perjalanan menuju kantor, pemandangan tersebut sudah mulai berkurang, tidak ada lagi keberadaannya. Bisa jadi yang bersangkutan kembali ke kampung atau pindah lokasi untuk menimbulkan kesan baru pada lokasi yang tentu baru juga.
Departemen Sosial pusat pun juga gerah dengan keberadaan pengemis tersebut, pola pelatihan untuk memberikan ketrampilan tidak juga memberikan hasil yang nyata untuk mengurangi jumlah pengemis di Jakarta. Demikian juga pihak Dinas Sosial Batam yang melakukan razzia dan memberikan bimbingan mental masih saja belum cukup untuk mengurangi populasi pengemis di Batam.
Harus disadari bahwa keberadaan pengemis akibat krisis ekonomi serta tidak dipungkiri dari beberapa pertimbangan seperti mentalitas serta adanya oknum yang sengaja memanfaatkan pengemis tersebut menjadi sebuah " pekerjaan ".
Mengingat pengemis sudah merupakan masalah kita juga, ada baiknya semua pihak ikut berperan serta dalam meminimalisir keberadaannya. Bisa saja peran masyarakat untuk tidak memberikan " sedekah " pada tempat - tempat yang dianggap mengganggu lalu lintas.
Bisa saja sedekah diberikan kepada panti sosial yang ada di Batam. bila saja pemberian ini bisa dikurangi, secara otomatis akan berpengaruh terhadap jumlah pengemis yang tentunya tidak akan tahan berlama-lama bila " mata pencaharian " yang selama ini bisa mereka peroleh berkisar 100 - 200 ribu semakin berkurang.
Seperti disampaikan oleh Dinsos Batam, bahwa keberadaan pengemis tersebut sebagian besar bukan penduduk Batam sudah tentu bagi masyarakat Batam ikut berperan dalam mencerminkan Batam bersih ( berkurang ) dari keberadaan pengemis.
Dengan kerjasama semua pihak baik itu LSM, masyarakat dan pemerintah , kemungkinan besar pengemis di Batam bisa diminimalisir, paling tidak lokasi nya tidak lagi beroperasi pada simpang - simpang jalan, selain mengganggu pemandangan juga kekawatiran adanya gangguan lalu lintas...
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
08.09
0
komentar
Kamis, 16 Oktober 2008
Menimang Para Caleg Batam
Tidak lama lagi tepatnya tanggal 9 April 2009, kita akan melakukan Pemilu yang memilih para anggota dewan dari kota, propinsi, pusat dan DPD. Hiruk pikuk kampanye dan juga dampak yang akan timbul sudah tentu harus secepatnya disikapi oleh semua pihak mulai dari para caleg, masyarakat pemilih, aparat sampai pada KPUD yang bertanggung jawab terhadap penghitungan suara nantinya.
Bisa dibayangkan nantinya dari sembilan ratus lebih caleg untuk DPRD Batam berebut untuk meraih kursi sebanyak 45 buah dari613.510 pemilih yang ada. Kalau dibagi saja untuk dapat kursi butuh suara 18 ribuan suara, itu kalau seluruhnya pemilih hadir menyalurkan suaranya.
Sementara persaingan diantara mereka saja, 1:20 sebuah persaingan yang maha ketat dan butuh perjuangan yang sangat melelahkan. Belum lagi salah satu aturan dalam PEMILU kali ini hanya nama yang dicantumkan dalam kertas suara.
Lalu terbersit dalam pikiran kita, sudah siap belum, para caleg nantinya bila mengalami sebuah kekalahan ? tidak terpilih maksudnya.Biaya untuk menjadi caleg saja konon ada yang ratusan juta dan puluhan juta sebuah nilai yang saat ini sulit untuk dapat mencari dalam kurun waktu yang singkat.
Masyarakat saat ini juga sudah semakin cerdas dengan memilih yang sesuai dengan nurani serta melihat track record dari para caleg yang nantinya akan dipilih.Persaingan tingkat Dapil(Daerah Pilihan ) saja sudah begitu kentara, bercokolnya para ketua DPC partai pada satu Dapil itu sudah merupakan persaingan, belum lagi masing - masing Dapil paling mungkin terwakili 11-12 orang saja.
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
07.41
1 komentar
Senin, 13 Oktober 2008
Antara Macet, Nyawa dan Motor
Lebaran jalur darat lintas Utara maupun Selatan Solo - Jakarta macet itu sudah hal yang biasa. Dalam benak pikiran saya akan terjadi macet sudah terbayang begitu lepas dari Madiun usai mengikuti reuni SMA 1 Madiun angkatan 81. Lepas pukul 14.00 WIB, saya diantar temen Bandono untuk mencari bis jurusan Madiun- Solo, sengaja tidak ke terminal melainkan langsung ke daerah Jiwan yang merupakan wilayah dari Kota Madiun dengan pertimbangan lebih deket serta dimungkinkan untuk tidak antri panjang .
Sambil pamitan, salah seorang temen Eric namanya menyampaikan sebuah SMS yang menyebutkan bahwa Ngawi sedang macet. Kebayang ketinggalan bis jurusan Solo - Jakarta sudah masuk dalam benak pikiran. " Dicoba saja dulu Ric, demikian saya menjawab menanggapi SMS tersebut. Dalam hati, mungkin ini upaya temen - temen untuk bisa menahan saya lebih lama untuk ngobrol, maklum sudah 27 tahun lama tidak ketemu, tentu butuh ngobrol dan cerita masa indah SMA dulu.
Langkah kanan pikir saya, begitu turun dari mobil Bandono langsung ada bis jurusan Solo. Perjalanan siang yang panas dan bis tanpa AC menambah gerah badan memulai perjalanan balik ke Jakarta untuk ketemu keluarga. menempati tempat duduk di tengah dan secara kebetulam berdampingan dengan penumpang asal Solo yang bekerja di Madiun.
Berita tentang macet di daerah Ngawi atau kira- kira 40 Km dari Madiun sementara tidak terbukti, bis yang saya tumpangi lancar dan tanpa terasa telah sampai Ngawi, tempat dimana saya di lahirkan 46 tahun yang lalu. Hal yang menggembirakan adalah istri bupati Ngawi yang sekarang adalah suami Antiek temen se angkatan SMA 1 Madiun 27 tahun yang lalu.
Kemacetan bisa saja tidak terasa akibat asyik ngobrol dan kondisi macet tidak seperti yang digambarkan dalam berita lewat televisi swasta tadi pagi, artinya kendaraaan macet berjam - jam seperti di daerah Indramayu deket Cirebon. Singkatnya, sampai di terminal Solo, perjalanan ke agen bis Lorena Solo dengan naik becak yang ditempuh dalam waktu 15 menit saja.
Tertera dalam tiket, jadwal bis Lorena jurusan Solo - Jakarta pukul 18.00 Wib berangkat dari Solo. Tanda - tanda kemacetan mulai terbayang, keinginan mandi ditunda dengan pertimbangan kawatir tidak cukup waktu. Maka dicoba mengisi perut dengan makan pada salah satu rumah makan terdekat agen bis Lorena Solo tersebut.
Singkat waktu, pukul 20.00 Wib, bis meluncur menuju Jakarta, kecepetan sedang karena masih dalam wilayah perkotaan, namun suasana macet mulai terasa ketika masuk wilayah Purworejo. Bis lebih banyak berhenti daripada jalannya, kemacetan lebih diakibatkan jalan tidak sanggup menampung kendaraan yang melintasi jalan tersebut.
Jumlah motor hampir separuh badan jalan, selain sulit untuk bergerak bagi kendaraan roda empat, pantas saja sopir kami sempat meliuk liukan bis yang dikemudikannya akibat rasa jengkel rombongan motor yang mengganggu dan menghalangi perjalanan.
Macet menjadikan pikiran dan perut mulai bernyanyi, sopir tidak berani mengajak mampir untuk makan, menurutnya sekali kita berhenti, maka akan jauh lebih panjang lagi antrian kendaraan yang berjalan secara pelan dan macet tersebut.
Kondisi tersebut menjadikan beberapa penumpang mulai gerah dan mual, anak - anak kecil juga tidak ketinggalan. Rasa syukur kepikir karena sebelum berangkat tadi sempat mengisi bahan bakar terlebih dahulu, untuk sementara waktu kondisi tubuh saya masih laik untuk terlambat makan.
Hiburan yang bisa saya nikmati adalah SMS dan buka Website lewat HP 9300, tertarik ketika membaca sebuah berita tentang tabrakan para pemudik yang menikmati perjalanan dengan sepeda motor. Dalam pikiran terbersit, keinginan irit namun tidak memikirkan keselamatan.
Bayangkan saja, Jarak Madiun - Jakarta sejauh tujuh ratusan KM mampu mereka tempuh selama 24 jam non stop, sementara bis saja yang lebih besar memakai jasa dengan adanya 2 orang sopir. Pemerintah sudah saatnya mengatur arus mudik dengan mempertimbangkan jarak serta kendaraan yang digunakan. Penggunaan sepeda motor untuk jarak jauh sudah harus mulai diatur agar korban jiwa akibat aeus mudik lewat motor bisa dikurangi.
Kami baru bisa makan pada pukul empat pagi pada salah satu restoran di Gombong, bayangkan saja jarak Solo Gombong yang bisa ditempuh dalam waktu 4 jam normal harus ditempuh selama dua kali lipat dari waktu biasa atau 8 jam. Kepikir kejadian yang sama akan terulang lagi untuk perjalanan berikutnya, selain menyempatkan diri makan dan sholat juga sedikit membawa bekal cukup untuk kemungkinan nanti tidak mampir lagi.
Minggu tanggal 5 Oktober tepat hari bersejarah Hari ABRI ternyata membawa kisah tidak terlupakan dengan kondisi macet yang amat macet. Gombong - Purwokerto saja yang bisa ditempuh sejam kali ini lama banget dan memakan waktu 5 jam, sebuah kondisi yang amat jauh seperti ketika masih kuliah pada Fakultas Peternakan Unsoed.
Perjalanan macet memang sulit untuk dinikmati kecuali bagi yang bisa tidur dan juga ngobrol. Saya mencoba untuk ngobrol, namun tetap juga tidak bisa mengusir jenuh serta penat. Daerah Gombong, Karanganyar, Kebumen, Purwokerto merupakan waialayh yang dulu menjadi daerah saya jalan ketika kuliah di Unsoed tahun 1981- 1986.
Kondisi sekarang sedang tidak nyaman, seumur - umur macet selama 30 jam antara Solo _ jakarta menjadi kenangan yang berbanding terbalik antara perjalanan menuju Madiun dan pulang dari Madiun yang tujuan akhir adalah Jakarta.
Bis baru kembali berhenti untuk makan pukul 15.30 di daerah Indramayu, kemacetan tetap terus membayangi dan baru bisa lega begitu masuk tol cikampek, dan akhirnya daerah lebak bulus ( Jakarta Selatan ) begitu jarum jam menunjukkan waktu 00.30 Wib.
Sampai di rumah kakak yang berlakasi di Pondok Cabe pukul 01.00, masih berrsyukur kendati harus berlama dengan bis 30 jam perjalanan Solo - Jakarta namun masih juga ada yang bisa dikenang dan menunggu jawaban pemerintah menanggapi kemacetan yang sudah lewat ambang penantian
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
11.01
2
komentar
Nambang Lebaran

Lebaran hari kemenangan, anak - anak pun bisa menikmati sambil silahturahmi. Istilah "nambang" sangat kental untuk mereka. Demikian pula dengan si bungsu Icha ketika usai silahturahmi halal bihalal dengan walikota Batam di Asrama Haji Batam Center.
Nambang biasa digunakan bagi para sopir atau pengojek ketika mencari nafkah, namun nambang yang dimaksud anak saya yang berumur 6 tahun tersebut adalah upaya yang mereka lakukan dengan berkunjung ke tetangga bermaaf- maafan dalam rangka berlebaran dan dibalik itu ada " ang paow" yang diberikan oleh pihak tuan rumah bagi anak - anak.
Nilai uang tidak begitu penting bagi Bungsu daro tiga bersaudara tersebut, namun kebersamaan dengan rekan - rekan sebaya dana nambang menjadikan cerita yang cukup menarik. Mulai tas kecil untuk menyimpan uang sampai pada upaya memilih rumah yang dimungkinkan untuk mendapatkan ang paow.
Menariknya lagi, anak sekarang sudah mulai kritis menilai seseorang dalam menerima kehadiran mereka ke rumah, ada yang dibilang pelit ( maaf), malah ada yang mereka komentari dengan sebutan cumi hee, cuma memberi minuman saja.
Memang , dari anak - anak yang nambang tidak seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar kita. Bahkan untuk menjangkau rumah yang mereka kunjungi, mereka sanggup berjalan kaki dan itu tidak dirasa karena dilakukan beramai - ramai, atau secara berkelompok.
Lain lagi cerita Icha ketika mencoba menghitung hasil nambangnya. Kata si bungsu, " enak kalau diajak halal bihalal sama orangtua, ang paow yang diterima biasanya lebih besar bila dibanding dengan ketika dilakukan bersama teman - teman sebaya.
Untuk mensikapi anak - anak nambang, saya sendiri sudah menyiapkan dengan pecahan uang rupiah, mulai dari seribuan sampai dengan sepuluh ribuan. Isi ang paow pun diibaratkan dengan route angkutan, besarnya tergantung dari dikenal tidaknya si anak semacam jauh dekatnya.
Hati - hati bagi orangtua yang anaknya sedang namabang, jangan dibiarkan begitu saja. Walau pun di lingkungan RT, tetap harus di monitor, pengalaman menunjukan adanya anak tetangga yang dipalak( diminta paksa) oleh anak yang secara fisik lebih besar.
Sebenarnya, ang paow lebaran sudah umum terjadi, bahkan ketika saya masih kecil sering berebut mengantar kue ketika sehari menjelang lebaran. Tuker menukar kue di kampung merupakan hal yang biasa dilakukan, biasanya bagi anak yang mengantar akan diberikan uang sebagi wujud perhatian.
Bedanya, nambang sekarang benar sesuai dengan kata yang tersirat, dapatnya pun menyenangkan bagi anak - anak se usia Icha.... selamat hari Raya Mohon maaf Lahir dan Batain 1 Syawal 1429 H....
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
08.28
0
komentar
Rabu, 24 September 2008
Jangan Pernah Berhenti Untuk Berusaha
Bersyukurlah kita, bila diberi sebuah kepercayaan dan kesempatan. Laksanakan amanah tersebut dengan persiapan dan keyakinan bahwa selaku manusia bila berusaha akan mampu tampil seperti yang diharapkan.
Pengalaman menarik selama perjalanan hidup justru saya peroleh dalam posisi " terdesak ", demikian untuk mengistilahkan kondisi akibat tidak ada cara lain kecuali dari diri sendiri yang berusaha dan mencoba untuk bisa.
Tahun 90-an, ketika memperoleh kesempatan kursus ke Australia selama enam bulan diwajibkan semua peserta membuat laporan mingguan maupun bulanan. Soal laporan biasa dilakukan, namun yang namanya komputer pada waktu itu sama sekali belum tahu dan bahkan amat jarang mengelus benda tersebut.
Akibat dari sebuah kewajiban , maka mulailah belajar yang namanya off dan on komputer sampai pada mempelajari program window dalam upaya membuat sebuah laporan. Untuk memperlancar upaya proses pembelajaran, maka dengan ikhlas dan tulus menawarkan diri kepada temen temen se perjuangan untuk menerima pengetikan secara gratis.
Dengan perlahan dan pasti, maka dunia komputer bukan sebuah hal yang asing lagi sampai merambah pada dunia maya seperti email, chatting dan pada akhirnya blog yang bisa mengaktualisasi diri kita.
Hal yang sama terjadi ketika menunaikan ibadah sholat tharaweh di Mesjid Al Muhajirin Tiban, lewat ajakan beberapa jamaaah menginginkan saya untuk tampil sebagai penceramah sholat subuh maupun taraweh. Alhamdullilah, dengan rajin membuka internet beberapa materi ceramah didapat dan ketika didaulat untuk ceramah subuh, dengan sedikit gugup ( jujur ) akhirnya kepercayaan tersebut bisa dilaksanakan.
Dari berbagai pengalaman tersebut, terus terang kalau soal bicara di muka umum sepanjang itu bidang olahraga atau tugas , merupakan hal yang relatif bisa dijalani, namun kalau tentang agama, diri sadar bahwa itu masih butuh proses.
Dari pengalaman tersebut, membuktikan kepada kita semua bahwa kalau usaha yang sungguh - sungguh dan disertai ketekunan akan menghasilkan yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan.
Yang perlu dalam pengembangan diri kita bahwa semua butuh proses dan waktu yang kadang bisa sebentar dan juga lama. Proses sosialisasi diri dan pengasahan kemampuan merupakan bentuk sinergi yang nantinya akan membentuk seseorang memiliki sebuah ketrampilan atau kelebihan.
Percayalah bahwa kita bisa besar, karena upaya kita yang dijalani dengan senantiasa mensyukuri apa yang telah kita peroleh,,, selamat mencoba dan berusaha...
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
15.23
0
komentar
Senin, 22 September 2008
Taksi Batam, Riwayatmu Kini
Percayalah kepada taksi bandara Hang Nadim, Batam , tidak ada tawar menawar soal harga seperti di bandara Soekarno_Hatta,Cengkareng yang tentu sudah ikut menenangkan perjalanan kita. Namun kondisi tersebut masih saja dinilai bahwa taksi Batam termasuk mahal?
Bahkan kalau taksi bandara Hang Nadim tidak akan mencari celah dengan memperpanjang jarak seperti yang pernah saya alami di Jakarta akibat tidak mengerti jalan yang paling dekat. disamping tidak ada argo, taksi Batam sudah terbiasa dengan nominal yang telah ditetapkan dari pihak pengelola taksi untuk daerah tujuan yang diinginkan oleh penumpang.
Ungkapan tersebut muncul saat adanya pelatihan bagi para sopir taksi bandara dan pelabuhan di salah satu hotel di Batam. Mensikapi maraknya jumlah taksi di Batam, secara jelas digambarkan oleh salah seorang peserta bahwa jumlah mobil taksi di salah satu pelabuhan Batam sudah over load.
Sebanyak 170-an buah taksi yang ada, sementara tiap harinya yang bisa beroperasi sebanyak 50-60 buah, hal ini tentu memberatkan bagi sopir yang secara rutin tetap harus setor uang harian kepada koperasi.
Masih seputar keruwetan soal taksi, "pesaing " taksi resmi di Batam juga cukup marak. Mobil plat hitam pun juga bersliweran bahkan mereka biasa disebut taksi gelap" berani memasang tarip yang lebih miring dibanding dengan tarip resmi taksi.
Kondisi miring tersebut menjadikan adanya perbandingan yang menyebabkan kesan " mahal " taksi Batam. Apabila persaingan secara sehat bisa diterapkan tidak mustahil bahwa permasalahan taksi di Batam bisa saja diatasi dan keberadaan taksi argo sudah tentu akan bisa diwujudkan.
Komentar para sopir taksi memang benar adanya, pertanyaan seputar memperbanyak taksi tanpa mengurangi taksi yang afkir juga menjadi pemikiran mereka, intinya butuh ketegasan dan regulasi yang jelas dari permasalahan taksi di Batam.
Pada era tahun 80-an, taksi di Batam memang masih menjadi primadona, selain bisa ngecer artinya berhaenti dimana-mana seperti bis Damri, taksi Batam pada saat itu jumlahnya memang masih memadai bila dibanding dengan penumpang yang memerlukannya, namun kondisi sekarang sudah tidak memungkinkan lagi dengan jumlah taksi resmi dan gelap serta adanya Damri hal tersebut mutlak diperlukan penataan yang lebih matang.
Kondisi seperti inilah yang nampaknya harus segera disikapi dalam ikut mensukseskan Visit Batam 2010 mendatang. Peran sopir sangat menentukan dalam kunjungan wisata untuk dapat menikmati objek maupun even wisata yang diselenggarakan di Batam. Sebagai ujung tombak yang ikut berperan hal tersebut harus segera dibenahi. Bila tidak segera dibenahi akan sulit dan menjadi kendala dalam pencapaian VB 2010...
Diposting oleh
Blog Bung Chris
di
08.25
2
komentar
